Thursday, April 26, 2007

Samurai, Kucing dan Tikus

Tersebutlah kisah seorang samurai yang berhadapan dengan masalah seekor tikus yang teramat licik di rumahnya. Tidak tahan dengan kerenah sang tikus, maka pergilah samurai ke pekan dengan hasrat membeli seekor kucing. Penjual kucing menjual seekor kucing yang menurutnya mampu menangkap sang tikus, dan kucing tersebut tampak gagah. Namun, setelah dibawa pulang, nyata sang tikus lebih licik dari kucing. Seminggu berlalu tanpa hasil memberangsangkan. samurai tersebut memulangkan kucing kepada penjual kucing. Lantas penjual kucing mengeluarkan seekor kucing yang besar, tangkas dan garang, sambil memberi jaminan penuh bahawa tidak ada seekor tikus pun yang akan dapat lepas darinya. Setelah dibawa pulang, nyata kucing baru ini sangat tangkas. Namun sang tikus yang cerdik tahu bahawa kucing baru ini bukan tandingannya, maka sepanjang waktu kucing berjaga, sang tikus berdiam diri di lubangnya. Sementelah kucing tidur, maka keluarlah sang tikus melakukan kerjanya seperti biasa. Separuh hari sang tikus bersembunyi, separuh lagi habis rumah samurai diporak-perandakan. Samurai akhirnya memulangkan kucing kepada penjual kucing. Sambil menggelengkan kepalanya, penjual kucing memberitahu kepada samurai bahawa dia telah memberi kucing yang terbaik kepadanya, dan tidak ada apa lagi yang dia dapat lakukan untuk membantu samurai. Dengan perasaan kecewa samurai berjalan pulang sambil memikirkan nasibnya yang dihantui masalah tikus.

Dalam perjalanan pulang, samurai bertemu dengan seorang sami dan meluahkan masalahnya kepada sami tersebut. Sami yang kasihankan samurai menawarkan khidmat seekor kucing yang ada di kuilnya. Kucing tersebut amatlah tua dan gemuk, dan langsung tidak menyedari samurai datang mengambilnya dari kuil dan membawanya ke rumah. Selama dua minggu di rumah samurai, kucing tua dan gemuk tersebut tidak bergerak langsung – ia tidur sepanjang hari dan sepanjang malam sambil menunggu makanan diletakkan di hadapannya. Samurai ingin memulangkan kucing yang tidak berguna ini kepada sami, namun sami meminta agar samurai tetap menyimpan kucing tua itu kerana tidak lama lagi masalah tikus akan selesai.

Sang tikus pula telah terbiasa dengan kehadiran tikus tua gemuk yang pemalas tersebut. Sang tikus tidak perlu lagi takut dan risau, malah kadangkala berani pula ia bermain-main dan menari-nari di sekeliling kucing tua yang kuat tidur itu. Akhirnya, pada suatu hari, tatkala sang tikus berada terlalu hampir dengan kucing tua tersebut, “pow!” dengan sekali tamparan pantas dari kucing tua tersebut matilah sang tikus serta-merta di tempat kejadian.

Kadangkala, apabila berhadapan dengan musuh yang lebih superior, jangan terus berdepan dengannya. Sebaliknya tunjuklah kelemahan kita agar musuh kita lalai dan leka. Apabila mereka merendah-rendahkan kita, mereka akan banyak melakukan kesilapan. Tatkala masa yang tepat tiba, gunakan segala kekuatan. Dengan sekali pukulan sahaja nescaya mereka akan tersungkur. Kesabaran itu tinggi nilainya. Hanya mereka yang bijak memahami kekuatan yang terlindung di sebalik kesabaran.

3 comments:

Taufik said...

Ni Sun Tzu Art of War ke ni? hehe.. saye bace jugak buku tu dulu, ttp dah lupa la banyak. Abang minat betul strategy2 ni rupenye. Tak bace lg pasal zhuge liang. hmm.. lepas pereksa la nanti.

L!Na p3Nc!LbOxRaDiOaCtiVE said...

hmm..this story is nice~
:)

ahmad al-Libi said...

kaedah yg menarik..
bang, nak mintak izin copy artikel kenangan2 tue.. nak hantar kat kgkwn jemaah.. heheh